BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pembangunan di berbagai wilayah Indonesia berkembang sangat pesat.
Selain berdampak positif, pembangunan ini juga meninggalkan dampak negatif.
Dampak negatif ini dapat berupa buangan limbah, yang merupakan buangan dari suatu
proses produksi yang sudah tak terpakai lagi. Karena tidak memiliki nilai
ekonomi dan daya guna lagi limbah bisa sangat membahayakan bila sudah mencemari
lingkungan sekitar terutama untuk limbah yang mengandung bahan kimia yang tak
mudah terurai oleh bakteri pengurai. Sumber limbah tersebut dapat berasal dari
sisa kegiatan industri, kegiatan domestik bahkan rumah sakit, yang merupakan
tempat menyembuhkan orang sakit juga memberikan dampak negatif.
1.2 Rumusan
Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah apa saja sistem
pengolahan limbah.
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui proses sistem
pengolahan limbah.
1.4 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah
ini adalah untuk memberikan informasi tentang sistem pengolahan limbah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Limbah
Menurut Undang-undang Republik Indonesia (UU RI) No. 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), definisi
limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Definisi secara umum,
limbah adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan
proses produksi yang sudah tak terpakai lagi, baik pada skala rumah tangga,
industri, pertambangan, dan sebagainya. Karena tidak memiliki nilai ekonomi dan
daya guna lagi limbah bisa sangat membahayakan bila sudah mencemari lingkungan
sekitar terutama untuk limbah yang mengandung bahan kimia yang tak mudah
terurai oleh bakteri pengurai. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan
debu, cair atau padat.
2.2 Instalasi Pengolahan Limbah
Pengendalian dampak lingkungan adalah upaya yang dilakukan untuk
mencegah, meminimalkan, dan atau menangani dampak negatif suatu usaha (proyek
pembangunan) terhadap lingkungan sehingga kualitas lingkungan tetap terjaga
dengan baik. Pengolahan limbah cair mempunyai tujuan untuk menghilangkan
unsur-unsur pencemar dari air limbah dan untuk mendapatkan effluent dari
pengolahan yang mempunyai kualitas yang dapat diterima oleh badan air penerima,
tanpa ada gangguan-gangguan fisik, kimiawi maupun biologi (Djabu, 1990/1991).
2.3 Sistem Pengolahan Limbah
1.Tahap awal
Pada tahap ini dilakukan pemisahan benda-benda asing seperti kayu,
bangkai binatang, pasir, dan kerikil. Sisa-sisa partikel digiling agar tidak
merusak alat dalam sistem dan limbah dicampur agar laju aliran dan konsentrasi
partikel konsisten.
2.Tahap primer
Tahap ini disebut juga tahap pengendapan. Partikel-partikel
berukuran suspensi dan partikel-partikel ringan dipisahkan, partikel-partikel
berukuran koloid digumpalkan dengan penambahan elektrolit.
3.Tahap sekunder
Tahap sekunder meliputi 2 tahap yaitu tahap aerasi (metode lumpur
aktif) dan pengendapan. Pada tahap aerasi oksigen ditambahkan ke dalam air
limbah yang sudah dicampur lumpur aktif untuk pertumbuhan dan berkembang biak mikroorganisme
dalam lumpur. Dengan agitasi yang baik, mikroorganisme dapat melakukan kontak
dengan materi organik dan anorganik kemudian diuraikan menjadi senyawa yang
mudah menguap seperti H2S dan NH3sehingga mengurangi bau air limbah. Tahap
selanjutnya dilakukan pengendapan. Lumpur aktif akan mengendap kemudian
dimasukkan ke tangki aerasi, sisanya dibuang. Lumpur yang mengendap inilah yang
disebut lumpur bulki.
4.Tahap tersier
Tahap ini disebut tahap pilihan. Tahap ini biasanya untuk
memisahkan kandungan zat-zat yang tidak ramah lingkungan seperti senyawa nitrat, fosfat, materi
organik yang sukar terurai, dan padatan anorganik.
2.4 Limbah dan
Karakteristiknya
Limbah yaitu limbah
dari suatu daerah permukiman, rumah tangga, dan juga berasal dari industri, air
tanah, air permukaan serta buangan lainnya yang telah dipergunakan untuk
berbagai keperluan, harus dikumpulkan dan dibuang untuk menjaga lingkungan hidup
yang sehat dan baik. Limbah memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan
sifatnya. Karakter limbah meliputi sifat fisika, kimia, dan biologi.
1. Karakteristik
Berdasarkan Sifat Fisika
Karaketer
fisika limbah meliputi suhu, bau, warna, dan padatan. Suhu menunjukkan derajat
atau tingkat panas limbah yang diterakan ke dalam skala-skala. Suhu air limbah biasanya lebih tinggi dari pada air
bersih karena adanya tambahan air hangat dari pemakaian perkotaan. Suhu air
limbah biasanya bervariasi dari musim ke musim, dan juga tergantung pada letak
geografisnya. Bau merupakan parameter yang subjektif. Pengukuran bau tergantung
pada sensivitas indra penciuman seseorang. Kehadiran bau menunjukkan
adanya komponenkomponen lain dalam air. Misalnya, bau seperti telur busuk
menunjukkan adanya hydrogen sulfide yang dihasilkan oleh permukaan zat-zat organic
dalam kondisi anaerobik. Pada air limbah, warna biasanya disebabkan oleh
kehadiran materi-materi dissolved, suspended, dan
senyawa-senyawa koloidal yang dapat dilihat dari pectrum warna yang terjadi.
Padatan yang terdapat dalam air limbah dapat diklasifikasikan
menjadi floating, settleable, suspended, ataudissolved.
Bahan padat total terdiri dari bahan padat tak terlarut atau bahan
padat yang terapung serta senyawa – senyawa yang larut dalam air. Kandungan
bahan padat terlarut ditentukan dengan mengeringkan serta menimbang residu yang
didapat dari pengeringan.
2. Karakteristik
Berdasarkan Sifat Kimia
Karakter kimia
limbah senyawa organik dan senyawa anorganik Senyawa organik adalah karbon yang
dikombinasi dengan satu atau lebih elemen-elemen lain (O, N, P, H). Senyawa
anorganik terdiri dari kombinasi elemen yang bukan tersusun dari karbon
organic. Pengujian kimia dari air limbah yaitu meliputi pengukuran Biological
Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO),Derajat
keasaman (pH), logam berat, ammonia, sulfide, fenol. Nitrogen organik, Nitrit,
Nitrat, Fosfor organik dan Fosfor anorganik. Nitrogen dan fosfor sangat penting
karena kedua nutrien ini telah sangat umum diidentifikasikan sebagai bahan
untuk pertumbuhan gulma air.
3. Karakteristik
Berdasarkan Sifat Biologi
Merupakan
banyaknya mikroorganisme yang terdapat dalam limbah tersebut. Mikroorgaisme
ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi hampir dalam semua bentuk limbah, bisanya dengan konsentrasi 105-108
organisme/l. Kebanyakan merupakan sel tunggal yang bebas ataupun berkelompok
dan mampu melakukan proses-proses kehidupan (tumbuh, metabolism, dan
reproduksi). Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air
terutama air yang dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih. Parameter
yang biasa digunakan adalah banyaknya mikroorganisme yang terkandung dalam
air limbah. Keberadaan bakteri dalam unit pengolahan limbah merupakan
kunci sukses efisiensi proses biologi.
2.5. Pengolahan
Limbah
Pengolahan limbah bertujuan untuk
menetralkan air dari bahan-bahan tersuspensi dan terapung, menguraikan bahan
organic biodegradable, meminimalkan bakteri patogen, serta memerhatikan
estetika dan lingkungan.
1. Cara Pengolahan Limbah
Pengolahan limbah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara alami
dan secara buatan.
a. Secara Alami
Pengolahan limbah secara alamiah dapat dilakukan dengan pembuatan kolam
stabilisasi. Dalam kolam stabilisasi, limbah diolah secara alamiah untuk menetralisasi
zat-zat pencemar sebelu limbah di daur
ulang. Kolam stabilisasi yang umum digunakan adalah kolam anaerobik, kolam
fakultatif (pengolahan limbah yang tercemar bahan organik pekat), dan kolam
maturasi (pemusnahan mikroorganisme patogen). Karena biaya yang dibutuhkan
murah, cara ini direkomendasikan untuk daerah tropis dan sedang berkembang.
b. Secara Buatan
Pengolahan limbah dengan bantuan alat dilakukan pada Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pengolahan ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu
primary treatment (pengolahan pertama), secondary treatment (pengolahan kedua),
dan tertiary treatment (pengolahan lanjutan).
2. Tahapan
Pengolahan Limbah
Tujuan utama
pengolahan limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam limbah
terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa
organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam.
Pengolahan limbah secara umum dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:
a. Pengolahan
Awal (Pretreatment)
Tahap
pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan
padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran di limbah. Beberapa proses
pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit
removal, equalization and storage, serta oil separation.
b. Pengolahan Tahap
Pertama (Primary Treatment)
Pada dasarnya,
pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan
awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang
terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical
addition and coagulation, flotation, sedimentation,
dan filtration.
c. Pengolahan
Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Pengolahan
tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari limbah yang
tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang
umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic
lagoon, tricking filter, aerated lagoon,stabilization
basin, rotating biological contactor, serta anaerobic
contactor and filter.
d. Pengolahan Tahap
Ketiga (Tertiary Treatment)
Proses-proses
yang terlibat dalam pengolahan limbah tahap ketiga ialah coagulationand, sedimentation,
filtration, carbon adsorption, ionexchange, membrane
separation, serta thickening gravity or flotation.
e. Pengolahan
Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang
terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah
kembali melalui proses digestionorwetcombustion, pressure filtration,
vacuumfiltration, centrifugation, lagooningordryingbed, incineration,
atau landfill.
Pemilihan
proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik kontaminan
dalam limbah dengan menggunakan indikator parameter yang sudah ditampilkan di
tabel di atas. Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan
secara detail mengenai aspek ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan, dan
kemudahan peoperasian. Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi
yang tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah
pertimbangan-pertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi kelayakan atau
bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk:
(a) Memastikan bahwa
teknologi yang dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan
karakteristik limbah yang akan diolah.
(b) Mengembangkan
dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi pengolahan
yang diharapkan.
(c) Menyediakan
informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
·
Secara umum, pengolahan limbah dapat dibagi menjadi 5 tahap berikut:
a. Pengolahan
Awal (Pretreatment)
Bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan
minyak dalam aliran limbah
b. Pengolahan
Tahap Pertama (Primary Treatment)
Betujuan yang sama dengan pengolahan awal.
Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung.
c. Pengolahan
Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari
limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa.
d. Pengolahan
Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan
air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon
adsorption, ion exchange, membrane separation,
serta thickening gravity or flotation.
e. Pengolahan
Lumpur (Sludge Traetment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat
tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali.
·
Sebelum dibuang ke lingkungan
limbah harus diolah dulu supaya tidak mengganggu atau merusak ekosistem
lingkungan.
3.2 SARAN
·
Para pakar lingkungan
seharusnya memberikan pengetahuan tentang pengolahan limbah terhadap
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
·
Anonim. 2012.
Proses Air Limbah Rumah Sakit Memakai Biofilter Anaerob - Aerob. http://environmentalsanitation.wordpress.com/2012/11/20/proses-air-limbah-rumah-sakit-memakai-sistem-biofilter-anaerob-aerob/
·
Djabu, U,
Koesmantoro, Soeparman., D. Sanropie, Indariwati, N. Marlina., A.R. Soemini,
Madelan, Pardjono, M. Mantariputra, T. Supriyo, D. Sugery, E. Triastuti.
1990/1991. Pedoman Bidang Studi Pembuagan Tinja Dan Air Limbah Pada Instituti
Pendidikan Sanitasi/Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Depkes RI - Pusat
Pendidikan Tenaga Kesehatan.
·
Hardiyanti,
Tutut. Pengolahan Air Limbah dengan proses Lumpur Aktif. 2012. http://tutut-hardiyanti.blogspot.com/2012/07/pengolahan-air-limbah-dengan-proses.html
·
Alaerts, G.,
Santika dan Sri Sumestri. 1984. Metode Penelitian Air. Surabaya:
Usaha Nasional
·
Azwar, Azrul.
1995. Pengantar Imu Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Mutiara Sumber
Widya
·
Pemerintah
Kota Surakarta. 2009. Sekilas Pengolahan Air Limbah Kota Surakarta.
Surakarta: PDAM.
·
Siregar, S.A.
2005. Instalasi Pengolahan Air Limbah. Yogyakarta: Kanisius
·
Sugiharto.
1987. Dasar – Dasar Pengolahan Air Limbah. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar