Kembali
ke awal semuanya telah sirna ditelan angin dan embun kelabu, mengarah keselatan
samudera mengambil sedikit demi sedikit keyakinan untuk tetap bisa bertahan
demi orang-orang terdekat dan disampingku. Mengayunkan lambaian tangan yang
mulai suram dalam kehampaan tertumpuk. Mengembun dalam sebuah jendela mentari
yang mulai kusam. Berusaha agar tetap bisa tersenyum dalam jebakan air mata dan
perasaan. Mulai membendung semua air dan untaian-untaian pintu hati agar tetap
bisa memilih. Memilih siapa dia yang terbaik. Sirna nya hati yang perih
ditinggal sirnanya hati dibohongi
dengan
penuh dustanya. Mengiris alunan emosi yang kembali terukir, seandainya kan
terulang apa mungkin semua kan kembali. Mengatur semua rencana kebahagiaan,
mengatur kesepakatan cinta. Ukiran demi ukiran mulai beranjak kembali kesemula.
Alunan
emosi mengiringi kebahagiaan, mendengur dalam hanyutan, senantiasa semua kan
beranjak pergi, lambaian-lambaian tangan meninggalkan, indahnya rupawan cinta
yang hancur. Ya maafkan semua salahku, yang benarpun belum tentu benar, disaat
hidup harus memilih, disaat semua bimbang dan dilemma inilah saatku berserah
diri kepada-Nya.
Disini
aku berdiam untuk tetap bisa kembali seperti diriku, untuk tetap menjadi
diriku, dan akan selalu menjadi diriku. Jadi dan jiwaku kini hanya tertinggal
separuh yang dapat dipercaya. Mengulang bendungan air mengalir, mengulang
hembusan nafas dan angin, kembali memulai ke awal. Inilah kisahku yang berawal
dengan kebahagiaan dan berakhir dengan menyakiti orang-orang terdekatku. Andai
aku bisa memilih, aku kan meminta agar aku bisa membahagiakan orang disamping
dan orang-orang terdekatku. Jeritan demi jeritan, alunan demi alunan akan tetap
menjadi bendera hidup dan matiku. Thank’s too Allah, Muhammad, MomDad, sahabat,
teman, dan semua orang yang menjadi sebagian dari kehidupanku.
Banjarmasin,
27 Februari 2013


Tidak ada komentar:
Posting Komentar